Oleh : Felicia Wulandari - grade 8
“Aku tak terpikir akan menjadi begini...,” kataku sambil melihat jendela kapal selam.
“Tentu saja tidak! Siapa kira ada gurita raksasa di sini,” teriak temanku, Kate. Aku terus memandangi gurita raksasa itu mengejar kami. Cepat atau lambat, jika tidak terjadi keajaiban, kami akan mati di sini dimakan gurita itu
“Tentu saja tidak! Siapa kira ada gurita raksasa di sini,” teriak temanku, Kate. Aku terus memandangi gurita raksasa itu mengejar kami. Cepat atau lambat, jika tidak terjadi keajaiban, kami akan mati di sini dimakan gurita itu
Empat jam yang lalu aku sedang meneliti seekor Blue Whale yang terdampar di pantai. Sekarang aku terjebak di dalam kapal selam yang akan dimakan gurita. Mari kuceritakan kisahku yang menggemparkan ini.
Aku adalah salah seorang peneliti fauna-fauna laut di Amerika Selatan. Sekarang aku berada di salah satu pantai di sana. Seperti yang kukatakan, empat jam yang lalu aku sedang meneliti seekor paus, Blue Whale di pantai. Paus itu sudah mati terdampar beberapa jam yang lalu. Kami belum bisa memindahkannya karena tidak memiliki alat dan juga karena ukuran paus itu. Paus itu panjangnya lebih dari 10 meter dan beratnya lebih dari 5 ton. Aku sedang membuat laporanku ketika rekan kerjaku, Kate datang berlarian ke arahku sambil mengayun-ayunkan papan tulis kecilnya. “Berita bagus! Kita diperbolehkan meminjam kapal selam!”. Kate terlihat sangat bersemangat. Sebuah senyum jelas-jelas terlihat di mukanya. “Kita akan berangkat dalam 15 menit. Temui aku di gedung itu, ok?” “Baiklah.” Lalu Kate berjalan pergi menuju gedung itu, sedangkan aku kembali ke mobil yang kami kendarai untuk mengambil tas kecilku. Aku melihat jam tanganku yang menunjukkan jam 11 kurang 10 menit. Lalu aku bergegas ke gedung yang ditunjuk Kate tadi.
Gedung itu terlihat tidak terlalu besar dari luar. Aku berjalan memasuki gedung itu dan betapa terkejutnya aku. Ternyata ada lorong menuju laut, tepatnya ke dasar laut. Aku mencari-cari wajah Kate di tengah-tengah kerumunan orang dan aku menemukannya. Ia sedang berbicara dengan seorang laki-laki memakai kemeja dan celana panjang putih. Ia memegang topi yang biasanya digunakan marinir di tangan kirinya. Kate lalu mengalihkan pandangannya ke arahku. “Chris, laki-laki inilah yang akan mengantar kita ke dasar laut. Perkenalkan, John – Christine. Christine – John.” “Senang bertemu denganmu.” kataku sambil menjabat tangannya. “Senang bertemu denganmu juga.” balasnya.
